Jumat, 12 Juni 2015

Kunjungan ke Museum Layang-layang

Di hari sabtu yang lumayan terik itu, kami (saya, suami dan anak) pun berangkat dari RS Pondok Indah setelah suami selesai konsultasi kesehatan, menuju museum layang-layang.


Diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu
Senang banget kalau harus berkunjung ke museum. Museum Layang-layang Indonesia ini berlokasi di Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu - Jakarta Selatan. Museum yang didirikan pada 21 Maret 2003, dimiliki oleh seorang wanita yang cinta akan layang-layang bernama Ibu Endang W. Puspoyo yang berasal dari Jawa Tengah. Banyak penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena telah memecahkan rekor sebagai pemrakarsa dan penyelenggara pembuatan layang-layang berbentuk diamond terbesar di tahun 2011 serta penghargaan kepariwisataan indonesia pada tahun 2004. 


Penghargaan dari MURI

Museum layang-layang ini memliki luas sebesar 1 hektar yang terdiri dari beberapa bangunan, yaitu : bangunan audio visual, bangunan pemilik rumah, bangunan untuk ruang pamer, bangunan tempat pembelian souvenir dan juga bangunan untuk acara-acara penting seperti resepsi pernikahan ataupun untuk acara lainnya. Di museum ini juga terdapat ruang pamer batik, yaitu batik-batik merupakan koleksi pemilik museum ini.

Awalnya agak sulit mencari lokasi museum-nya dikarenakan memang masuk ke jalan-jalan yang agak kecil, dan akhirnya sampai juga di museum yang lumayan asri itu.
Tiba di lokasi, kami langsung membeli tiket seharga Rp. 15.000,- per orang, baik dewasa maupun anak-anak. Harga tersebut sudah termasuk tiket masuk museum, audio visual (menonton pertunjukan layang-layang) dan juga cara membuat layang-layang.


Tiket masuk yang cukup murah termasuk belajar membuat layang-layang

Tawaran lain dari petugas museum adalah, melukis layang-layang dengan pilihan yang besar ataupun yang kecil. Saya pun memilih layang-layang yang besar dengan harga Rp. 50.000,- per layangan, sedangkan untuk layang-layang yang kecil cukup membayar Rp. 40.000,- saja.
Untuk mengawali kunjungan di museum ini, kita diajak petugasnya untuk melihat tayangan di layar kaca tentang asal muasal layangan, banyak macam layangan dari berbagai daerah dan berbagai negara sampai tayangan festival layang-layang yang diadakan di beberapa daerah atau di beberapa negara.
Setelah menyaksikan tayangan melalui layar kaca, kemudian kami mulai memasuki ruang pamer di museum tersebut. Banyak sekali layang-layang indah dan cantik yang ada di ruang pamer tersebut. Museum ini mengkoleksi lebih dari 200 buah layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia dan berbagai negara di dunia dan akan terus bertambah koleksinya. Di museum ini terdapat 2 (dua) macam layang-layang Dewi Sri, yatiu dari Jawa Barat dan Bali.


Kami berpose di depan layang-layang Dewi Sri dari Jawa Barat


Sabila yang cantik dan suka museum

Yang menarik hati saya adalah layangan Dewi Sri dari daerah Jawa Barat dengan gambar merak di layang-layang tersebut dan juga 2 (dua) buah layang-layang dari Malaysia yang sangat indah menurut penglihatan saya. Setiap layang-layang di museum ini mempunyai makna tersendiri, seperti layang tapean yang berasal dari Banyuwangi - Jawa Timur yang diterbangkan apabila pada musim panen padi.
Sabila di depan layang-layang Dewi Sri dari Jawa Barat

Layang-layang dari Malaysia


Layang-layang dari Malaysia


Layang-layang dari Belanda


Layang-layang dari Belanda

Layang-layang dari Banyuwangi yang diterbangkan pada saat musim panen padi tiba

Layang-layang yang ada di museum ini pernah diterbangkan minimal 2 kali dan rata-rata layangan di museum ini sudah pernah mengikuti event khusus, seperti festival layang-layang atau sejenisnya di beberapa daerah ataupun beberapa negara.
Setelah keliling melihat aneka layang-layang, kami pun diajarkan membuat layang-layang (ini sudah termasuk dalam harga tiket, seperti yang saya ungkapkan diatas). Disediakan bambu yang sudah dirakit, hanya tinggal pasang kertas dan ukur benang sama rata supaya layang-layang seimbang waktu diterbangkan.
Memberi lem pada rangka layang-layang


Layang-layang yang sudah jadi tinggal di gambar dan di warnai


Sabila mewarnai kupu-kupu pada layang-layang kecil
Layang-layang yang sudah jadi, kemudian di lukis atau di gambar sesuka hati kita, asalkan bagus. Selesai membuat layang-layang dan menggambar di layang-layang kecil, kami pun mulai melukis di layang-layang yang besar sesuai dengan yang telah dibayarkan bersama tiket masuk tadi. Layang-layang besar ini tidak gampang robek dan juga bisa dilipat karena terbuat dari bambu yang kokoh dan berbahan parasut. Selanjutnya kami minta bantuan petugas museum untuk menggambar di layang-layang parasut tadi karena sayang kalau gambar yang kami buat akan terlihat jelek.


Petugas museum membantu menggambar dan melukis layang-layang besar milik kami


Melukis di layang-layang berbahan parasut


Mencoba menerbangkan layang-layang


Sudah sore hari dan kami akhirnya memutuskan untuk pulang dengan membawa 2 layang-layang dari kertas minyak, 1 layang-layang dari kertas biasa dan 1 layang-layang lipat yang terbuat dari bahan parasut tadi.
Sungguh senang dan amat sangat banyak cerita yang bisa kami dapatkan dengan berkunjung ke museum layang-layang ini karena jadi tahu dari mana saja layang-layang berasal.

Kunjungan ke Museum Tekstil

Pada hari sabtu, tanggal 25 April 2015 berkunjung ke museum tekstil yang berada di wilayah Petamburan, Jakarta Barat.

Dengan hanya bermodal Rp. 5.000,- untuk dewasa dan Rp. 2.000,- untuk anak-anak kita sudah bisa banyak tau tentang batik dan kain-kain tradisional dari berbagai daerah di indonesia.


Beberapa ruang pamer terdapat di museum ini dan setelah puas berkeliling melihat-lihat berbagai macam kain dan batik, kita bisa melanjutkan ke bagian belakang dari museum ini, yaitu ke Pendopo Batik.

Di pendopo batik ini, kita bisa melihat banyak orang belajar batik, bahkan kita sendiri juga bisa membatik sendiri. Sebenarnya saya ingin supaya anak saya, Sabila saja yang belajar membatik, tapi dikarenakan usia sabila masih 6 tahun kurang maka tidak disarankan membatik dengan menggunakan cantik dan malam karena efek panas dari benda-benda yang digunakan tersebut. Untuk anak-anak sangat disarankan membatik dengan tekhnik cap karena lebih aman. Tapi sayang, di hari itu membatik dengan tekhnik cap sudah ditutup, jadilah saya yang belajar membatik menggunakan kain berukuran 30cm x 30cm dengan harga hanya Rp. 40.000,- untuk sekali membatik.


Banyak pilihan gambar yang disediakan untuk membatik diatas kain tersebut, mulai dari kupu-kupu, bunga, motif batik dan lain sebagainya. Dan saya pun mengambil gambar kucing sesuai dengan pilihan anak saya, Sabila.

Bagi yang belajar membatik, pertama yang harus dilakukan adalah memilih motif ataupun gambar yang akan dibatik, kemudian menggambar diatas sehelai kain putih dengan cara mencetak dari gambar yang dipilih. Setelah gambar yang di cetak selesai, tahap selanjutnya adalah memasukkan kain putih bergambar tersebut ke dalam ring yang fungsinya supaya kain enak di pegang pada saat membatik. Kemudian siapkan peralatan batik seperti : kompor, kuali, malam dan juga canting. Untuk memulai di tahap ini, jangan lupa menggunakan celemek atau alas yang menutupi pakaian kita ya, supaya pakaian kita tidak terkena malam yang panas.


Posisikan duduk yang enak, lalu mulailah membatik pelan-pelan. Awal memegang canting masih agak canggung karena belum terbiasa, tapi lama kelamaan malah makin asyik membatik. Memegang canting juga ada tekhnik tersendiri, yaitu dengan kemiringan + 30o,
dengan kemiringan seperti itu malam panas yang keluar dari canting cukup untuk batas melukis batik diatas sehelai kain. Kalau canting di pegang terlalu tinggi, maka malam panas yang keluar akan melebar dan besar.


Canting terdiri dari 3 bagian, yaitu :
- Cucuk, bagian paling depan berbentuk runcing yang berfungsi sebagai mata pena untuk mengeluarkan malam ke dasar kain yang akan di batik ;
- Nyamplung, bagian tengah yang berfungsi untuk menampung malam panas sebelum dikeluarkan melalui cucuk ;
- Gagang, bagian paling belakang yang berfungsi untuk pegangan saat membatik menggunakan canting.

Untuk memperlancar aliran cucuk, nyamplung harus makin sering mengambil malam panas dan cucuk di tiup terlebih dahulu. Cucuk dan nyamplung terbuat dari tembaga karena tembaga merupakan material penghantar panas yang baik, sedangkan gagang terbuat dari bambu.


Canting batik menurut fungsinya :
- Canting Batik Rengreng, canting bercucuk tunggal dan tidak terlalu besar berdiameter 1-2.5 mm yang berfungsi untuk membuat pola pertama pada batik tulis atau dikenal dengan istilah merengreng. Pola pertama atau dasar tidak terlalu rumit karena belum ada sisan ataupun tembokan maupun pulasan pada kain ;
- Canting Batik Isen, canting yang mempunyai cucuk tunggal dan banyak sesuai dengan motif yang diinginkan. Diameter canting ini lebih kecil 0.5-1.5 mm.

Ada 3 ukuran cucuk yang digunakan untuk membatik, yaitu : kecil, sedang dan juga besar dan semuanya dengan fungsi yang berbeda-beda.


Fungsi dari ukuran cucuk:
- Canting dengan cucuk kecil : untuk membuat isen pada pola batik yang telah di rengreng ;
- Canting dengan cucuk sedang : digunakan untuk membuat pola pertama sebagai pola dasar dalam pembuatan batik tulis ;
- Canting dengan cucuk besar : digunakan untuk membuat pola-pola batik yang berukuran besar. Pola yang dipilih untuk membuat perbedaan antara pola utama dan pola tambahan.


Setelah semua kain yang dibatik selesai secara bolak balik atau atas bawah, kain tersebut dilepaskan dari ring dan kemudian dilakukan pencelupan warna. Kali ini warna yang saya pilih lagi-lagi atas pilihan anak saya, yaitu warna biru. Setelah dilalukan pencelupan warna, dilakukan juga pencelupan atau perebusan kain yang hanya sebentar ke air rebusan tapioka atau kanji. Fungsi dari air rebusan kanji ini adalah untuk melunturkan malam yang tersisa pada kain untuk tahap selanjutnya diberi warna lagi.

Proses pencelupan pun selesai dan selanjutnya batik yang sudah ada gambar dan sudah berwarna, dijemur untuk proses pengeringan batik dan batik hasil karya kita tersebut boleh dibawa pulang.

Banyak banget ilmu yang bisa saya ambil dari berkunjung ke museum tekstil dan juga belajar membatik ini. Perjalanan dan kunjungan yang murah meriah namun mendapatkan ilmu yang lumayan banyak. Ayoooo ajak anak-anak dan saudara-saudara kita untuk mengunjungi museum-museum yang ada di indonesia.